Senin, 08 April 2013

nilai budaya berupa penderitaan (makalah IBD)






BAB I

PENDAHULAN

A. Latar Belakang



Manusia didunia ini dihadapkan pada dua cobaan yaitu cobaan yang mengembirakan dan cobaan yang menyusahkan. Cobaan tersebut berupata tahapan dan rintangan yang menguji manusia dalam kehidupan apabila mampumenyelesaikan dengan baik akan mewndapatkan pahala dan bila mengingkarinya ketentuan yang ada akan tenggelam dalam penderitaan di akhirat kelak.

Terkadang manusia terbuai pada kegembiraan, padahal kegembiran juga cobaan. Manusia seringkali tergelincir akibat keterlenaan dan berlebihan serta melampaui batatas dan berujung pada penderitaan. Sementara ada pula yang menghadapi cobaan yang menyusahkan namun tidak kuat menjalani cobaan. Orang tersebut menjadi frustasi dan meluapkan emosi tanpa kontrol. Sikap seperti itu malah semakin menambah penderitaan. Adapula ketika merasa kesabaran sudah dibatas perjuangan berhenti melakukan perjuangan padahal keinginan yang diharapkan selangkah lagi tercapai sehingga tetap pada pendedritaan dan menyesal ketika harapan yang dicitakan berlalu begitusaja dihadapanya. Ada pula yang menjalani hidup dengan sikap noverkonviden (bermain aman), tidak mau menghadapi masalah atau lari ndari masah namun yang terjadi mendapati pada suatu penderitaan. Ada pula yang mencoba berkelik dari masalah dan hanya mengincar kebahagiaan dunia namun di akhirat berujung pada penderitan.

Manusia di dunia ini tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah baik yang menyusahkan atau yang menggembirakan. Masalah timbul karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Proses dalam menghadapi kesenjangan seringkali dihadapkan pada lika-liku kehidupan yang sering dianggap sebagai suatau penderitaan.

Susah maupun senang merupakan dua agenda yang silih berganti tejadi dalam kehidupan manusia. Habis susah ada senang dan habis senang ada susah. Manusia selalu untuk berusaha menjadi lebih baik. Manusia perlu menjalani proses di dunia ini untuk mencari bekal untuk akherat dengan menjalani suka duka yang ada di dunia.

Manusia juga dituntut untuk keimanan Terhadap Tuhannya baik duka maupun duka untuk semakin mendekatkan diri. Manusia sepatutnya bukan mengeluh dan meratapi penderitaan. Namun harus bangkit mengolah penderitaan menjadi sesuatu yang bernilai lebih berharga. Dan terus belajar menelusuri kehidupan karena ada hikmah dibalik penderitaan.





B. Rumusan Masalah



Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di rumuskan sebagai berikut :

a. apa pengertian dari penderitaan?

b. apa bentuk bentuk penderitaan?

c. apa macam macam dari kesedihan?

d. apa macam macam dari siksaan?




C. Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan dilakunkanya penulisan makalah ini adalah :

1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian penderitaan

2. Mahasiswa dapat memahami hubungan manusia, budaya dengan penderitaan.

























BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Penderitaan

Penderitaan berasal dari kata dasar derita. Sementara itu kata derita merupakan serapan dari bahasa sansekerta, menyerap kata dhra yang memiliki arti menahan atau menanggun. Jadi dapat diartikan penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak meyenakan. Penderitaaan dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin. Penderitaan secara lahiriah dapat timbul karena adanya intensitas komkosisi yang mengalami kekurangan atau berlebihan, seperti akibat kekurangan pangan menjadi kelaparan, atau akibat makan terlalu banyak menjadi kekenyangan, tidak dapat dipungkiri keduanya dapat menimbulkan penderitaan. Adapula kondisi alam yang ekstrem, seperti ketika terik matahari membuat kepanasan, atau saat kehujanan membuat kedinginan.

Ada pula penderitaan yang secara lahiriah seperti sakit hati karena dihina, sedih karena kerabat meninggal, putus asa karena tidak lulus ujian. Atau penyesalan karena tidak melakukan yang diharapkan. Sementara yang lahir-batin dapat muncul dikarenakan penderitaan pada sisi yang satu berdampak pada sisi yang lain atau dengan kata lain penderitaan lahiriah memicu penderitaan batiniah atau sebaliknya. Misal akibat kehujanan badan menjadi kedinginan namun tidak ada tempat berteduh akibatnya mendongkol, risau atau menangis. Ada pula karena putus asa tidak lulus ujian menjadi tidak mau makan dan menimbulkan perut sakit.


Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, dari yang terberat hingga ringgan. Persepsi pada setiap orang juga berpengaruh menentukan intensitas penderitaan. Suatu kejadian dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu dianggap penderitaan bagi orang lain. Dalam artian suatu permasalahan sederhana yang dibesar-besarkan akan menjadi penderitaan mendalam apabila disikapi secara reaksioner oleh individu. Ada pula masalah yang sangat urgen disepelekan juga dapat berakibat fatal dan menimbulkan kekacauan kemudian terjadi penderitaan.

Manusia tidak dapat mengatakan setiap situasi masalahnya sama, penderitaanya sama solusinyapun sama. Penderitaan bersifat universal dapat datang kepada siapapun tidak peduli kaya maupun miskin, tua maupun muda. Penderitaan dapat muncul kapanpun dan dimanapun. Semisal saat seminar di siang hari, suasana pengap, ada kipas anginpun masih kipas-kipas membayangkan ruang ber AC, dan pulang tidur merentangkan badan di kasur empuk. Atau makan buah segar dan minum air dingin. Namun pasien rumah sakit di ruang VIP, tidur di kasur empuk ruang ber-AC, banyak buah segar dan air segar di kulkas, merasa tidak betah dan ingin cepat pulang. Ada lagi orang yang tidak mempunyai uang merasa menderita tidak dapat wisata saat liburan, namun ada pula orang yang berpergian membawa uang banyak tanpa bekal hendak liburan ternyata mobil mogok di daerah yang jauh dari permukiman, dan saat makan siang tiba, rasa lapar mulai muncur, ternyata uang tidak dapat menolong dari penderitaan karena tidak ada barang yang bisa di beli, terlebih muncul rasa gengsi atau keegoisan penumpang lain menambah penderitaan.

Penderitaan merupakan realita kehidupan manusia di dunia yang tidak dapat dielakan. Orang yang bahagia juga harus siap menghadapi tantangan hidup bila tidak yang muncul penderitaan. Dan orang yang menghadapi cobaan yang bertubi-tubi harus berpengharapan baik akan mendapatkan kebahagian. Karena penderitaan dapat menjadi energi untuk bangkit berjuang mendapatkan kebahagian yang lalu maupun yang akan datang.

Akibat penderitaan yang bermacam-macam manusia dapat mengambil hikmah dari suatu penderitaan yang dialami namun adapula akibat penderitaan menyebabkan kegelapan dalam kehidupan.

Sehingga penderitaan merupakan hal yang bermanfaat apabila manusia dapat mengambil hikmah dari penderitaan yang dialami. Adapun orang yang berlarut-larut dalam penderitaan adalah orang yang rugi karena tidak melapaskan diri dari penderitaan dan tidak mengambil hikmak dan pelajaran yang didapat dari penderitaan yang dialami.

Penderitaan juga dapat "menular" dari seseorang kepada orang lain. Misal empati dari sanak-saudara untuk membantu melepaskan penderitaan. Atau sekedar simpati dari orang lain untuk mengambil pelajaran dan perenungan.


Contoh gamblam penderitaan manusia yang dapat diambil hikmahnya diantaranya tokoh filsafat ekistensialisme Kierkegaard (1813-1855) seorang filsafat asal Denmark yang sebelum menjadi filsafat besar, sejak masa kecil banyak mengalami penderitaan. Penderitaan yang menimpanya, selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan orang anggota keluarganya, termaksud ibunya, selama dua tahun berturut-turut. Peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya. Keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia mencari jalan membebaskan diri (kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan mabuk-mabukan. Karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaard mencoba mencari “hubungan” dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya dari melankoli. Akhirnya ia menemukan dirinya sebagai seorang filsuf eksistensial yang besar.
Penderitaan Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar. Lain lagi dengan filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948). Sebelum dia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga dia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar.
Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar.

Contoh lain ialah penderitaan yang menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad. Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian, pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).

Dalam riwat hidup Bhuda Gautama yang dipahatkan dalam bentuk relief Candi Borobudur, terlihat adanya penderitbn. Tergambar seorang pangeran (Sidharta) yang meninggalkan istana yang bergelimangan hata, memilih ke hutan untuk menjadi biksu dan makan dengan cara megembara di hutan yang penuh penderitaan.

Riwayat tokoh tokoh besar di Indonesia pun dengan penderitaan. Buya Hamka mengalami penderitaany hebat pada masa kecil, hingga ia hanya mengecap sekolah kelas II. Namun ia mampu menjadi orang besar pada zamanya, berkat perjuangan hidup melawan penderitaan. Contoh lain adalah Bung Hata yang beberapa kali mengalami pembuangan namun pada akhirnya ia dapat menjadi pemimpin bangsanya.



Ketika membaca kisah tokoh-tokoh besar tersebut, kita dihadapkan pada jiwa besar, berani karena benar, rasa tangung-jawab, dan sebagainya. Dan tidak ditemui jiwa munafik plin-plan, dengki, iri dan sebagainya.



B. Bentuk – Bentuk Penderitaan



A. Kekalutan Mental

Menurut Ridwan Efendy (2007) Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.

Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah







Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita bisa jasmana maupun rokhani
Usaha mempertahankan diri dengan cara negative
Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :
Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
Terjadinya konflik sosial budaya
Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial

Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative. Posotif; trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebgai usaha agar tetap survey dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut, ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif; trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami fustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk fustasi antara lain :
Agresi berupa kamarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi hypertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya
Regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan
Fiksasi; adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu
Proyeksi; merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative kepada orang lain
Identifikasi; adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya
Narsisme; adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari paa orang lain
Autisme; ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yagn dapat menjurus ke sifat yang sinting.

B. Frustasi

Istilah frustasi bagi kita dewasa ini bukanlah lagi merupakan suatau istilah baru yang masih asing. Namun sudah terasa sangat populer dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, kadang-kadang diantara kita baik secara sengaja maupun tida, terjadi salah pemakaian istilah pada porsi sebenarnya.

Untuk itu marilah kita lihat pendapat Dr. zakiah Daradjat.

“Frustasi merupakan suatu proses yang menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan atau menyangka bahwa akan terjadi suatu hal yang menghalangi keinginannya”.

Sedangkan menurut DR. Kartini Kartono :

“Frustasi merupakan suatu keadaan, dimana suatu kebutuhan tidak terpenuhi dan tujuan bias tercapai. Jadi orang yang mengalami suatu hambatan atau hambatan dalam usaha mencapai satu tujuan”.



Penyebab frustasi

Seandainya suatu peristiwa kegagalan terjadi pada diri anda , kemudian dalam diri anada itegrasi pribadi yang baik, kemungkinan anda akan mengalami suatu tekanan dan gangguan emosional yang dapat menyebabkan frustasi.





Beberapa contoh-contoh penyebab frustasi :

· Gegagalan dalam bercinta

· Kegagalan dalam membangun rumah tangga

· Juga ada frustasi yang disebabkan dari luar yaitu keadaan lingkungan dari anak tersebut,. Misalnya hinaan, cemoohan, dan lain sebagainya.



Gejala Frustasi

Menurut DR. A.A.H. Watts dalam tulisannya yang berjudul “The Early Simptoms of Depression” (Rasanya Media N.3/4,1974) menyebutkan tentang gejala- gejala awal depressi yang meliputi antara lain :
Perasaan lesu (loss of Energy)
Cemas (Anxiety)
Perasaan hati tidak menentu (Swing of Affect)
Perubahan ritme tidur (Change in Sleep Rytm)
Perubahan kebiasaan / cara hidup ( Change of Habit )



C. Macam-Macam Kesedihan

Kesedihan adalah suatu emosi yang ditandai oleh perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Saat sedih, manusia sering menjadi lebih diam, kurang bersemangat, dan menarik diri. Kesedihan dapat juga dipandang sebagai penurunan suasana hati sementara, sementara depresi sering dicirikan dengan penurunan suasana hati yang persisten dan besar yang kadang disertai dengan gangguan terhadap kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan hariannya.

Kesedihan adalah lawan dari kebahagiaan atau kegembiraan dan serupa dengan dukacita atau kesengsaraan.

setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan atau kesusahan, baik kesedihan karena masalah hidup atau karena tertimpa musibah. Bentuk kesedihan bermacam-macam, mulai dari murung, melamun sampai gelisah dan teriak.
Namun tahukah anda Allah SWT sesungguhnya tak menghendaki seorang muslim mengalami kesedihan berlarut-larut karena urusan dunia, karena sedih itu tidak dapat menolak bahaya dan tidak ada manfaatnya.



Islam mengajarkan seorang muslim terbiasa tegar dan kuat dalam menghadapi segala persoalan termasuk ketika tertimpa musibah, karena disetiap musibah yang kita alami terdapat hikmah yang begitu besar, sehingga bersabar jauh lebih baik dari pada bersedih.
Rasulullah SAW bersabda :

"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan. Hal itu hanya dialami oleh seorang mukmin dikalau mendapat kebaikan bersyukur dan itu terbaik baginya, jika tertimpa musibah dia bersabar dan itu terbaik baginya"

[HR.MUSLIM]



Sahabat berikut kami sampaikan fakta sedih dalam islam.

1. Ganjarann bagi seorang muslim yang sabar dalam kesedihannya adalah pahala dan penawar dosa dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada sesuatu yang menimpa mukmin pada dirinya, sehingga membuatnya sampai sakit, berduka, kelelahan, kesedihan, gangguan dan kekawatiran sampaipun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah SWT akan menghapus dosa-dosanya".
[HR.Muslim dan Ahmad]

banyak orang yang sedih merasa putus asa dan tak berdaya. Ia tak mengerti maksud Allah SWT menurunkan ujian dan musibah kepada dirinya, padahal jika bersabar, seorang yang berduka akan mendapatkan banyak pahala.

Rasa sakit yang ditimbulkan dihati juga menjadi sarana Allah SWT menghapus dosa. Sehingga perasaan sedih bernilai besar dihadapan Allah SWT jika seseorang menerima dengan ihklas ujian dan musibah yang menimpanya.

2. Jenis sedih yang dilarang dalam Islam.
Sahabat, seorang muslim dilarang bersedih dengan sikap orang kafir dan tipu dayanya. Bagi orang muslim yang hendak mensucikan ke Esaan Allah SWT sering kali mendapatkan tantangan dan penolakan dari masyarakat. Allah SWT meminta seorang muslim bersabar dalam menyebarkan kebaikan dan mencegah keburukan.

Allah SWT Berfirman:





وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍۢ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

(QS.An-Nahl:127)



Kesedihan yang kedua yang dilarang dalam islam adalah sedih dalam persoalan duniawi, seperti persoalan beban hutang.

Nabi SAW mengajarkan doa :

" Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih, aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas, ku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir dan ku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia"
[HR.Abu Daud]

Sahabat, Rasulullah SAW mengajarkan dan menganjurkan kepada ummat muslim yang sedang tertimpa kesusahan hidup untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT, sehingga Allah SWT akan menggantikan kesedihan itu menjadi kegembiraan dari pada hanya sekedar bersedih dan menangis yang tidak dapat menyelesaikan masalah dan tidak ada manfaatnya.

3.Sedih yang diperbolehkan dalam Islam terkait persoalan Akhirat.
Orang beriman yang merasa sedih karena menyesali perbuatan buruk dan dosa - dosa dimasa lalu adalah orang yang dipuji Allah SWT. Tangisan orang seperti ini merupakan bentuk penyesalan dan taubat yang akan dibalas Allah berupa penghapusan dosa yang lalu.

Allah SWT berfirman:



فَلْيَضْحَكُوا۟ قَلِيلًۭا وَلْيَبْكُوا۟ كَثِيرًۭا جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.
(At-Taubah:82)

Mereka yang tulus dan ihklas menyesali dosa-dosanya di masa lalu hingga meneteskan air mata, termasuk orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri. Mereka tak ingin terjatuh ketika dosa yang lalu yang menjadi penyesalan. Sahabat, Al-quran diturunkan sebagai petunjuk jalan manusia.

Jika seorang bisa menangis ketika mendengar lantunan Ayat suci Alqur'an, maka hatinya telah lunak dan cenderung pada kebenaran. Kebalikannya, mereka yang keras hatinya, akan sulit menerima kebenaran meski datangnya dari Allah SWT. Jangankan menangis, mendengarkan ayat suci Alqur'an saja mereka tak mau.

Tangisan selanjutnya yang diperbolehkan dalam islam yaitu tangisan orang yang berdzikir panjang mengingat Allah SWT secara khusuk dan tawaduk sehingga tak samapi disadasari meneteskan air mata.

Rasulullah SAW bersabda :



"Salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah SWT di hari kiamat, dimana tidak ada naungan kecuali naungannya. Yaitu seseorang yang berdzikir panjang kepada Allah SWT dalam keadaan menyendiri hingga ia meneteskan air matanya".
[HR. Bukhari dan Muslim]

Sahabat, manusia tak ada bandingannya dihadapan Allah SWT, jika kita mengingat Allah Yang Maha Besar tak ada ditakutkan selain atas dosa dan durhaka yang pernah kita lakukan kepada Allah. Masalah dunia menjadi kecil dihadapan Allah, dan hanya kepada Allah lah seorang muslim meminta pertolongan dan perlindungan dari kesusahan dan rasa sedih yang berkepanjangan. Jadi La Tahzan, jangan sedih.





D. Macam Macam Siksaan

Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.

Penyiksaan hampir secara universal telah dianggap sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia, seperti dinyatakan Deklarasi Hak Asasi Manusia. Para penandatangan Konvensi Jenewa Ketiga dan Konvensi Jenewa Keempat telah menyetujui untuk tidak melakukan penyiksaan terhadap orang yang dilindungi (penduduk sipil musuh atau tawanan perang) dalam suatu konflik bersenjata. Penanda tangan UN Convention Against Torture juga telah menyetujui untuk tidak secara sengaja memberikan rasa sakit atau penderitaan pada siapapun, untuk mendapatkan informasi atau pengakuan, menghukum, atau memaksakan sesuatu dari mereka atau orang ketiga. Walaupun demikian, organisasi-organisasi seperti Amnesty International memperkirakan bahwa dua dari tiga negara tidak konsisten mematuhi perjanjian-perjanjian tersebut.

Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani.Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan.Siksaan yang sifatnya psikis misalnya:

1. Kebimbangan: dialami seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan yang akan diambil.

2. Kesepian: dialami seseorang yang merasa kesepian walaupun berada di lingkungan ramai.

3. Ketakutan: merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin.



Sebab Seseorang Merasa Ketakutan diantaranya:

1. Claustrophobia : takut terhadap ruangan tertutup,

2. Agorophobia : takut terhadap ruangan terbuka,

3. Gamang : takut berada di tempat ketinggian,

4. Kegelapan : takut bila berada di tempat gelap,

5. Kesakitan : takut yang disebabkan rasa sakit,

6. Kegagalan : takut akan mengalami kegagalan.





















BAB III

A. Kesimpulan

Dalam materi ini kita dapet mengetahui tentang apa itu penderitaan, Kehidupan manusia tidak akan datar pasti bergelombang maksudnya pasti ada yang menyenagkan dan menyusahkan. Pederitaan juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan manusia, rasa sakit, siksaan menuntut manusia auntuk bankit nenjadi lebih baik namun ada yang tidak kuat sehingga terjadi kekalutan Mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati sesuai denan khaidah agama manusia akan mendapat penderitaan di akhirat berupa pemyiksaan di dalam neraka.

Dalam menghadapi penderitaan setiap orang pasti melakukan hal yang berbeda untuk menahan atau menyikapinya, ada yang menyikapinya dengan tindakan positif dan negatif, misalkan yang positif ia akan lebih berusaha agar tidak mendapatkan penderitaan yang ia sudah alami bahkan bisa menjadikannya sebagai sebuah peluang dalam melakukang sebuah inovasi baru, sedangkan yang negatif ia akan trauma dan membuat kondisi ia menjadi labil karena terlalu berlebihan mengikapi penderitaannya dan bahkan sampai ingin bunuh diri. Untuk itu kesehatan rohani setiap orang harus dijaga agar terhindar dari kekalutan mental yang bisa merusak psikis kita.

B. Saran

Diharapkan kalangan mahasiswa dan pembaca dapat melakukan penelitian lebih lanjut pada sub bab. Mengingat luasnya pembahasan dalam makalah ini. Sehingga dapat memahami lebih dalam.





























DAFTAR PUSTAKA



Effendi Ridwan. 2011. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Ed.2. Katalog Dalam Terbitan (KDT).Jakarta.

Mustopa Muhammad Habib. 1989. Ilmu Budaya Dasar sebagai Kumpulan essay – Manusia dan Budaya : Usaha Nasional. Surabaya.

Supartono W, Drs. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia

Ahmad.2011.http://donixp.multiply.com/journal/item/24/MANUSIA_DAN_PENDERITAAN_TULISAN_IBD.html

Ibnu Hasyim.2009.http://www.ujank.web.id/Coretan-Tugas/manusia-dan-penderitaan.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar