Senin, 10 September 2012

HUBUNGAN AGAMA DAN BUDAYA (makalah)



1.PengertianAgama

Kata agamaberasaldaribahasaSansekertadarikata a berartitidakdangamaberartikacau. Keduakataitujikadihubungkanberartisesuatu yang tidakkacau. Jadifungsiagamadalampengertianinimemeliharaintegritasdariseorangatausekelompokorang agar hubungannyadenganTuhan, sesamanya, danalamsekitarnyatidakkacau. Karena itumenurutHinduisme, agamasebagaikatabendaberfungsimemeliharaintegritasdariseseorangatausekelompokorang agar hubungannyadenganrealitastertinggi, sesamamanusiadanalamsekitarnya. Ketidakkacauanitudisebabkanolehpenerapanperaturanagamatentangmoralitas,nilai-nilaikehidupan yang perludipegang, dimaknaidandiberlakukan.

Pengertianitujugalah yang terdapatdalamkata religion (bahasaInggris) yang berasaldarikatareligio (bahasa Latin), yang berakarpadakatareligare yang berartimengikat. Dalampengertianreligiotermuatperaturantentangkebaktianbagaimanamanusiamengutuhkanhubungannyadenganrealitastertinggi (vertikal) dalampenyembahandanhubungannyasecara horizontal

Agamaitutimbulsebagaijawabanmanusiaataspenampakanrealitastertinggisecaramisterius yang menakutkantapisekaligusmempesonakanDalampertemuanitumanusiatidakberdiamdiri, iaharusatauterdesaksecarabatiniahuntukmerespons.Dalamkaitaniniadajuga yang mengartikanreligaredalamartimelihatkembalikebelakangkepadahal-hal yang berkaitandenganperbuatantuhan yang harusdiresponnyauntukmenjadipedomandalamhidupnya.





Agamaitutimbulsebagaijawabanmanusiaataspenampakanrealitastertinggisecaramisterius yang menakutkantapisekaligusmempesonakanDalampertemuanitumanusiatidakberdiamdiri, iaharusatauterdesaksecarabatiniahuntukmerespons.Dalamkaitaniniadajuga yang mengartikanreligaredalamartimelihatkembalikebelakangkepadahal-hal yang berkaitandenganperbuatantuhan yang harusdiresponnyauntukmenjadipedomandalamhidupnya.

Islam jugamengadopsikataagama, sebagaiterjemahandarikata Al-Din seperti yang dimaksudkandalam Al-Qur’an surat 3 : 19 . Agama Islam disebut Din dan Al-Din, sebagailembagaIlahiuntukmemimpinmanusiauntukmendapatkankeselamatanduniadanakhirat. Secarafenomenologis, agama Islam dapatdipandangsebagai Corpus syari’at yang diwajibkanolehTuhan yang harusdipatuhinya, karenamelalui syari’at ituhubunganmanusiadengan Allah menjadiutuh. Cara pandanginimembuatagamaberkonotasikatabendasebabagamadipandangsebagaihimpunandoktrin.

KomaruddinHidayatseperti yang dikutipolehmuhammadWahyuniNifislebihmemandangagamasebagaikatakerja, yaitusebagaisikapkeberagamaanataukesolehanhidupberdasarkannilai-nilaikeTuhanan.

Walaupunkeduapandanganituberbedasebabada yang memandangagamasebagaikatabendadansebagaikatakerja, tapikeduanyasama-samamemandangsebagaisuatusistemkeyakinanuntukmendapatkankeselamatandisinidandiseberangsana.

Denganagamaorangmencapairealitas yang tertinggi. Brahman dalamHinduisme, BodhisatwadalamBuddhisme Mahayana, sebagai Yahweh yang diterjemahkan “Tuhan Allahdalamagama Kristen, Allah subhana wata’ala dalam Islam.

Sijabattelahmerumuskanagamasebagaiberikut:

“Agama adalahkeprihatinanmahaluhurdarimanusia yang terungkapselakujawabannyaterhadappanggilandari yang MahaKuasadanMahaKekal. Keprihatinan yang mahaluhuritudiungkapkandalamhidupmanusia, pribadiataukelompokterhadapTuhan, terhadapmanusiadanterhadapalamsemestarayaserta isinya”

UraianSijabatinimenekankanagamasebagaihasilrefleksimanusiaterhadappanggilan yang MahaKuasadanMahaKekal. Hasilnyadiungkapdalamhidupmanusia yang terwujuddalamhubungannyadenganrealitastertinggi, alamsemestarayadengansegalaisinya. Pandanganitumengatakanbahwaagamaadalahsuatugerakandariatasatauwahyu yang ditanggapiolehmanusia yang beradadibawah.



2. AgamadanBudaya

Budayaadalahkeseluruhansistem, gagasan, tindakandanhasilkerjamanusiadalamrangkakehidupanmasyarakat yang dijadikanmilikmanusiadenganbelajar.

Jadibudayadiperolehmelaluibelajar. Tindakan-tindakan yang dipelajariantara lain caramakan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasidalammasyarakatadalahbudaya. Tapikebudayaantidaksajaterdapatdalamsoalteknistapidalamgagasan yang terdapatdalamfikiran yang kemudianterwujuddalamseni, tatananmasyarakat, ethos kerjadanpandanganhidup. YojachemWachberkatatentangpengaruhagamaterhadapbudayamanusia yang immaterial bahwamitologishubungankolektiftergantungpadapemikiranterhadapTuhan. InteraksisosialdankeagamaanberpolakepadabagaimanamerekamemikirkanTuhan, menghayatidanmembayangkanTuhan .

LebihtegasdikatakanGeertz , bahwawahyumembentuksuatustrukturpsikologisdalambenakmanusia yang membentukpandanganhidupnya, yang menjadisaranaindividuataukelompokindividu yang mengarahkantingkahlakumereka. Tetapijugawahyubukansajamenghasilkanbudaya immaterial, tetapijugadalambentuksenisuara, ukiran, bangunan.

Dapatlahdisimpulkanbahwabudaya yang digerakkanagamatimbuldari proses interaksimanusiadengankitab yang diyakinisebagaihasildayakreatifpemeluksuatuagamatapidikondisikanolehkontekshiduppelakunya, yaitufaktorgeografis, budayadanbeberapakondisi yang objektif.

Faktorkondisi yang objektifmenyebabkanterjadinyabudayaagama yang berbeda-bedawalaupunagama yang mengilhaminyaadalahsama. Olehkarenaituagama Kristen yang tumbuhdiSumateraUtaradiTanahBatakdengan yang diMalukutidakbegitusamasebabmasing-masingmempunyaicara-carapengungkapannya yang berbeda-beda. Ada juganuansa yang membedakan Islam yang tumbuhdalammasyarakatdimanapengaruhHinduismeadalahkuatdengan yang tidak. DemikianjugaadaperbedaanantaraHinduismedi Bali denganHinduismedi India, BuddhismediThailandengan yang adadi Indonesia. Jadibudayajugamempengaruhiagama. Budayaagamatersebutakanterustumbuhdanberkembangsejalandenganperkembangankesejarahandalamkondisiobjektifdarikehidupanpenganutnya .Tapihalpokokbagisemuaagamaadalahbahwaagamaberfungsisebagaialatpengaturdansekaligusmembudayakannyadalamartimengungkapkanapa yang iapercayadalambentuk-bentukbudayayaitudalambentuketis, senibangunan, strukturmasyarakat, adatistiadatdan lain-lain. Jadiadapluraismebudayaberdasarkankriteriaagama. Hal initerjadikarenamanusiasebagaihomoreligiosusmerupakaninsan yang berbudidayadandapatberkreasidalamkebebasanmenciptakanpelbagaiobjekrealitasdantatanilaibaruberdasarkaninspirasiagama.

3. Agamadanbudaya Indonesia

Jikakitatelitibudaya Indonesia, makatidakdapattidakbudayaituterdiridari 5 lapisan. Lapisanitudiwakiliolehbudayaagamapribumi, Hindu, Buddha, Islam dan Kristen
Lapisanpertamaadalahagamapribumi yang memilikiritus-ritus yang berkaitandenganpenyembahanrohnenekmoyang yang telahtiadaataulebihsetingkatyaituDewa-dewasukusepertisombaondiTanahBatak, agamaMerapudiSumba, KaharingandiKalimantan. Berhubungandenganritusagamasukuadalahberkaitandengan para leluhurmenyebabkanterdapatsolidaritaskeluarga yang sangattinggi. Olehkarenaitumakaritusmerekaberkaitandengantari-tariandanseniukiran, Makadariagamapribumibangsa Indonesia mewarisikeseniandanestetika yang tinggidannilai-nilaikekeluargaan yang sangatluhur.

LapisankeduadalahHinduisme, yang telahmeninggalkanperadapan yang menekankanpembebasanrohani agar atmanbersatudengan Brahman makadenganituadasolidaritasmencaripembebasanbersamadaripenindasansosialuntukmenujukesejahteraan yang utuh. Solidaritasitudiungkapkandalamkalimat Tat TwamAsi, akuadalahengkau.

Lapisanketigaadaalahagama Buddha, yang telahmewariskannilai-nilai yang menjauhiketamakandankeserakahan. Bersamadenganitutimbulnilaipengendaliandiridanmawasdiridenganmenjalani 8 tatajalankeutamaan.

Lapisankeempatadalahagama Islam yang telahmenyumbangkankepekaanterhadaptatatertibkehidupanmelalui syari’ah, ketaatanmelakukanshalatdalamlimawaktu,kepekaanterhadapmana yang baikdanmana yang jahatdanmelakukan yang baikdanmenjauhi yang jahat (amarmakrufnahimunkar) berdampakpadapertumbuhanakhlak yang mulia. Inilahhal-hal yang disumbangkan Islam dalampembentukanbudayabangsa.

Lapisankelimaadalahagama Kristen, baikKatholikmaupunProtestan. Agamainimenekankannilaikasihdalamhubunganantarmanusia. Tuntutankasih yang dikemukakanmelebihiartikasihdalamkebudayaansebabkasihinitidakmenuntutbalasanyaitukasihtanpasyarat. Kasihbukansuatucetusanemosionaltapisebagaitindakankonkrityaitumemperlakukansesamasepertidirisendiri. Atasdasarkasihmakagereja-gerejatelahmempeloporipendirianPantiAsuhan, rumahsakit, sekolah-sekolahdanpelayananterhadaporangmiskin.

Dipandangdarisegibudaya, semuakelompokagamadi Indonesia telahmengembangkanbudayaagamauntukmensejahterakannyatanpamemandangperbedaanagama, sukudanras.

Disampingpengembanganbudaya immaterial tersebutagama-agamajugatelahberhasilmengembangkanbudaya material seperticandi-candidanbihara-biharadiJawatengah, sebagaipeninggalanbudaya Hindu dan Buddha. Budaya Kristen telahmempeloporipendidikan, senibernyanyi, sedangbudaya Islam antara lain telahmewariskanMasjidAgungDemak (1428) diGelagahWangiJawaTengah. Masjidiniberataptigasusun yang khas Indonesia, berbedadenganmasjid Arab umumnya yang berataplandai. AtaptigasusunitumenyimbolkanIman, Islam danIhsan. Masjidinitanpakubah, benar-benar has Indonesia yang mengutamakankeselarasandenganalam.Masjid Al-AqsaMenaraKudusdiBantenbermenaardalambentukperpaduanantara Islam dan Hindu. MasjidRao-raodi Batu Sangkarmerupakanperpaduanberbagaicorakkeseniandenganhiasan-hiasanmendekatigaya India sedangatapnyadibuatdengan motif rumahMinangkabau

Kenyataanadanya legacy tersebutmembuktikanbahwaagama-agamadi Indonesia telahmembuatmanusiamakinberbudayasedangbudayaadalahusahamanusiauntukmenjadimanusia.



4. Agama-agamasebagaiasetbangsa

Dari segibudaya, agama-agamadi Indonesia adalahasetbangsa, sebabagama-agamaitutelahmemberikansesuatubagikitasebagaiwarisan yang perludipelihara. Kalaupadawaktuzamanlampauagama-agamabekerjasendiri-sendirimakadalamzamanmileniumke 3 iniagama-agamaperlubersama-samamemeliharadanmengembangkanasetbangsatersebut. Cita-citainibarulahdapatdiwujudkanapabilasetiapgolonganagamamenghargai legacy tersebutTetapi yang sering terjadiadalahsebaliknyasebabkitatidaksadartentangnilaiasetitubagibagipengembanganbudaya Indonesia. Karena ketidaksadaranitumakakitamelecehkansuatugolonganagamasebagaigolongan yang tidakpernahberbuatapa-apa. Kalaupunbesarnilainya, tapikarenahasil-hasilitubukandarigolonganku, makakitamerasatidakperlumensyukurinya. Lebihburuklagi, jikaada yang berpenderianapa yang diluarkitaadalahjahatdanpatutdicurigai. Persoalankita, bagaimanakitadapatmenghargaimonumen-monumenbudayaitusebagaimilikbangsa, untukitukitaperlu:



1.Mengembangkanreligius literacy.

Tujuannya agar dalamkehidupanpluralismekeagamaanperludikembangkan religious literacy, yaitusikapterbukaterhadapagama lain yaitudenganjalanmelekagama. Pengembangan religious literacy samadenganpemberantasanbutahurufdalampendidikan. Kitaakuibahwaselamainipenganutagamabutahurufterhadapagamadiluar yang dianutnya. Jadiperludiadakanupayapemberantasanbutaagama, Karena butaterhadapagama lain makaorang sering tertutupdanfanatiktanpa menh\ghiraukan bahwaada yang baikdariagama lain. Kalauorangmelekagama, makaorangdapatmemahamiketulusanorang yang beragamadalampenyerahandirikepada Allah dalamkesungguhan. Sikapmelekagamainimembebaskanumatberagamadarisikaptingkahlakucurigaantarasatudengan yang lain. Para pengkhotbahdapatberkhotbahdengankesejukandankeselarasantanpabertendensimenyerangdanmenjelekkanagama lain.


2. Mengembangkan legacy spiritual dariagama-agama.

Telahkitaungkapkansebelumnyatentang legacy spiritual darisetiapagamadi Indonesia. Legacy itudapatmenjadiwacanabersamamenghadapikrisis-krisis Indonesia yang multi dimensiini. Masalah yang kitahadapi yang paling beratadalahmasalahkorupsi, supremasihukumdankeadilansosial. Berdasarkan legacy yang tersebutsebelumnya, bahwasetiapagamamempunyai modal dasardalammenghadapimasal-masalahtersebut, tetapibelumpernahadasuatuwacanabersama-samauntukmelahirkansuatupendapatbersama yang bersifatoperasional.

Agaknyasetiapkelompokagamadi Indonesia sudahwaktunyabersama-samamembicarakanmasalah-masalahbangsadanpenanggulangannya.





KEPUSTAKAAN

Andito, AtasNamaAgama, WacanaAgamaDalam Dialog BebasKonflik, Bandung, PustakaHidayah, 1998.

BudiPurnomo, Alays, Jakarta: PenerbitBukuKompas, 2003.

Geertz, Clifford, KebudayaandanAgama, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Koentjaraningrat, PengantarIlmuAntropologi, Jakarta: PT RanakaCipta,1990

O’Dea, Thomas, SosiologiAgama, Jakarta: CV Rajawali, 1984.

MulyonoSumardi, PenelitianAgama, MasalahdanPemikiran, Jakarta; PustakaSinarHarapan, 1982.

Tule, Philipus, WilhelmusJulei, ed Agama-agama, KerabatDalamSemesta, Flores:PenerbitNusaIndah, 1994.

Wach, Jajachim, IlmuPerbandinganagama, Jakarta : CV Rajawali, 1984.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar